Dia, Ibu, Bukan Klise

Wanita itu bernama Ibu,

Klise…!
Sajaksajak untuknya terlalu klise
Hanya mengenang dikenang dan kenangan
Sedangkan bakti untuknya:
Niatan
Impian
Khayalan
Faktanya:
Tercampakkan

Klise…!
Puisipuisi untuknya terlalu klise
Menyanjungnya memujanya melambunglangitkannya
Sedangkan sikap untuknya:
Keluhan
Cemberutan
bahkan
Bentakan
Faktanya:
Terhinakan

Klise…!
Syairsyair untuknya terlalu klise
Padahal sederhana inginnya:
Perhatikan bukan dibiarkan
Dengarkan bukan ditinggalkan


Merdekalah aku dan kalian
Jika:
Restunya senantiasa di hadapan
Tangannya senantiasa ditengadahkan
Bibirnya senantiasa mendo’akan, kebaikan


Bukan klise…!
Cinta kasih sayangnya ‘tuk kita

Dan wanita itu hanya disebut Ibu.

-dar-

Bangil, 28 Dzulhijjah 1435/23 Oktober 2014

Ada Banyak Cara Tuhan Kita Menegur

  • Ada banyak cara Tuhan kita menegur
  • Ada yang terpeleset lalu kebentur
  • Ada yang tidak terpeleset tapi tafakkur
  • Namun, semuanya harus bersyukur
  • Ada banyak cara Tuhan kita menegur
  • Mau halus, sedikit kasar, sangat kasar, tetap harus bersyukur
  • Semuanya itu agar kita teratur
  • Tak lagi sombong, ujub, apalagi kufur
  • Ada banyak cara Tuhan kita menegur
  • Alih-alih berdoa agar tegurannya bukan kena sampur
  • Alih-alih berharap agar tegurannya bukan kecebur sumur
  • Alih-alih berlindung agar tegurannya bukan guntur
  • Ada banyak cara Tuhan kita menegur
  • Agar kita semangat, tidak futur
  • Agar kita sadar, tidak keblandur
  • Agar kita mawas, tidak ngawur
  • Ada banyak cara Tuhan kita menegur
  • Banyak istighfar agar hati menjadi subur
  • Banyak istighfar agar jiwa tidak takabbur

-dar-