Allah Ta’ala Senantiasa Ingat Perjuangan Para Hamba-NYA: Refleksi QS. Maryam: 64

Muslim mana yang tidak tahu dengan Ilmu Tafsir Al-Qur’an? Sebuah ilmu yang sangat lengkap. Ilmu yang di dalamnya mencakup semua hal. Akidah, tauhid, fikih, hukum-hukum, nasehat, sirah nabi, dan kisah-kisah, semua hal itu ada di dalam ilmu tafsir.

QS. Maryam: 64Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- yang akhir hidupnya di penjara fokus ke Al-Qur’an yang kemudian Allah ta’ala membukakan baginya banyak hal tentang Al-Qur’an. Sehingga, muncullah pernyataan penyesalan beliau, “Aku menyesal karena cenderung menyia-nyiakan Al-Qur’an. Seandainya saya memfokuskan diri kepada Al-Qur’an, menjelaskannya dan menuliskan tafsir Al-Qur’an, tentu akan banyak lagi manfaatnya.” Maksud ucapan beliau adalah banyaknya perkara-perkara lain yang kala itu memang dibutuhkan untuk membantah kelompok-kelompok sesat.

Ilmu tafsir adalah ilmu yang senantiasa hidup. Senantiasa ada kemungkinan ditemukannya tafsir baru yang saat ini belum ada karena tafsir Al-Qur’an tergantung pada pembukaan dari Allah ta’ala. Jika Allah ta’ala membuka, maka seseorang itu dapat memahami Al-Qur’an lebih dalam lagi.

 — 00 —

Ayat 64:

وَمَا نَتَنَزَّلُ إِلا بِأَمْرِ رَبِّكَ لَهُ مَا بَيْنَ أَيْدِينَا وَمَا خَلْفَنَا وَمَا بَيْنَ ذَلِكَ وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا

Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa.”

 وَمَا نَتَنَزَّلُ إِلا بِأَمْرِ رَبِّكَ

<< Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. >>

Ini adalah pernyataan dari Malaikat Jibril kepada Rasulullah Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Rasulullah merasa bahwa Malaikat Jibril lama tidak datang, sehingga Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- rindu dan takut berpisah dengan Malaikat Jibril. Demikian pula Malaikat JIbril, dia rindu kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Namun, dalam ayat ini Malaikat Jibril menjelaskan bahwa dia tidak dapat turun kecuali atas perintah Allah ta’ala.

 لَهُ مَا بَيْنَ أَيْدِينَا وَمَا خَلْفَنَا وَمَا بَيْنَ ذَلِكَ

<< Kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya >>

Semua perkara yang ada di depan yakni akhirat adalah milik Allah ta’ala. Pun perkara yang ada di belakang yakni dunia adalah milik Allah ta’ala. Demikian pula perkara yang berada di antara keduanya.

Semua perkata yang ada, baik masa lalu, sekarang, ataupun masa depan adalah milik Allah ta’ala. Dia adalah Yang Maha Awal, Yang Maha Akhir, Maha Mengetahui baik yang dzhahir (nampak), maupun yang bathin (tersembunyi). Allah Menguasai segala masa dan waktu. Allah Pemilik segala-galanya. Ini adalah keagungan Allah ta’ala.

 وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا

<< dan tidaklah Tuhanmu lupa >>

Allah ta’ala tidak pernah lupa. Dia cinta dan sayang kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, serta tidak akan pernah melupakan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Ada ayat yang mirip dengan ini, yakni QS. Adh-Dhuha. Disebutkan sebab turunnya ayat ini dalam tafsir Ibnu Katsir: Nabi saw pernah bersedih hati (sakit) sehingga beliau tidak bangun satu atau dua malam, dalam riwayat lain, karena wahyu lama tidak turun. Kemudian datang seorang perempuan (ada yang menyebutkan, perempuan itu adalah istri Abu Lahab, paman Nabi saw) berkata, “Wahai Muhammad, aku tidak melihat setanmu melainkan dia telah meninggalkanmu.” Setan yang dimaksudkan perempuan itu adalah Malaikat Jibril atau Allah ta’ala.

Terkait olokan perempuan tersebut, Allah ta’ala yang cinta kepada Rasulullah saw langsung menjawab,

(وَالضُّحَى (١)وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى (٢)مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى (٣

Demi waktu Dhuha (Ketika matahari naik sepenggalan). Dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu.”

Ini adalah keutamaan Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Jika nabi-nabi terdahulu berbuat salah,maka nabi itu meminta ampun terlebih dahulu kepada Allah ta’ala, lalu Allah mengampuni. Berbeda dengan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang langsung diampuni Allah ta’ala (Allah ta’ala telah memaafkan kamu), tidak ada kalimat, “kamu meminta maaf pada Allah ta’ala..” Demikian pula Nabi Musa -‘alaihissalam- yang berdo’a meminta kelapangan dada, maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah dilapangkan dadanya oleh Allah ta’ala.

Dalam kaidah tafsir, Syaikh Abdurrahman bin Nashr As-Sa’di –rahimahullah- berkata, “Jika dalam Al-Qur’an ada nafi –peniadaan-, maka tidaklah hanya sekedar peniadaan. Artinya, terdapat kebalikan dari peniadaan tersebut yang bersifat sempurna.” Sehingga << Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu >> maka artinya adalah Allah ta’ala senantiasa bersama Nabi Muhammad dan Dia sangat mencintai dan menyayangi Rasulullah saw. Adanya nafi, menunjukkan adanya itsbat –penetapan-. << Dan tidaklah Tuhanmu lupa >> Artinya bahwa ada penetapan bahwa Allah senantiasa ingat.

Begitulah jalan dakwah, penuh dengan celaan manusia. Harus siap dengan segala resikonya. Penuh dengan onak dan duri. Butuh perjuangan dan pengorbanan. Imam Syafi’i –rahimahullah- berkata, “Siapa yang menyangka dapat selamat dari omongan manusia, maka dia adalah orang yang gila. Karena manusia mengatakan tentang Allah, bahwa Allah ta’ala adalah trinitas (salah satu dari tiga unsur, Allah punya anak dll.) dan Nabi Muhammad disebut sebagai tukang sihir. Apalagi kita?.”

Allah ta’ala tidak pernah lupa meskipun manusia telah lupa. Orang dzhalim akan selamanya dzhalim jika belum menghentikan kedzhalimannya. JIka sekarang orang-orang dzhalim terlihat seakan-akan menang, maka sejatinya mereka tidak pernah menang. Kebatilan tidak akan pernah menang atas kebenaran. Hanya saja, kebatilan tersebut diberi kesempatan sedikit, lantas kemudian dihabiskan oleh Allah ta’ala.

Namun, semua itu tidaklah datang secara gratis, butuh perjuangan dan pengorbanan. Ahli kebenaran yang enggan berjuang akan dikalahkan oleh mereka yang berjuang di jalan kebatilan. Kebenaran akan dikalahkan dengan kebatilan jika kebenaran tersebut tidak diperjuangkan. Oleh karena itu, keduanya tergantung seberapa besar perjuangan yang dilakukan, siapa yang kuat maka dia yang menang karena Allah ta’ala tidak akan memberikan kemenangan secara gratis. Sehingga, jangan pernah bertanya mengapa kebatilan menang atas kebenaran jika kebenaran itu tidak pernah diperjuangkan.

Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhu– berkata, “Jika ahli kebenaran diam saja, tidak menjelaskan, tidak menerangkan dan tidak pula membantah ahli kebatilan, maka akan ahli kebatilan akan disangka benar oleh kebanyakan orang.”

-dar-

Disarikan dari kajian Ahad Malam bersama Ustadz Abdullah Shalih Al-Hadhrami, 17 Dzhulhijjah 1435/9 Oktober 2014 di Masjid An-Nur Jagalan, Malang.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s