Sawang-Sinawang: Perbedaan Rasa dan Sudut Pandang

Dalam bahasa Jawanya sawang-sinawang. Sawang artinya melihat. Sinawang artinya balik melihat. Kalau digabungkan, sawang-sinawang berarti saling melihat. Hanya saja konteks penggunaannya yang berbeda. Sawang-sinawang tidak hanya sekedar melihat dengan mata apa yang terekspos (tampak luar) tetapi dapat merefleksikan pada sesuatu yang lain yang juga melekat pada diri seseorang, pekerjaan misalnya.

Masyarakat kita telah terbiasa dengan penilaian yang bersifat eksplisit, tampak luar. Penilaian yang bersifat subyektif, tanpa melihat sisi dalam dari siapa dan apa yang dinilai. Sisi dalam dapat diartikan sebagai rasa dan sudut pandang yang dinilai. Penilaian semacam inilah yang terkadang memunculkan perbedaan antara yang dinilai dengan yang dinilai. Persepsi dari penilai berbeda dengan rasa yang dinilai.

Contoh sederhananya adalah, kemarin pagi menjelang siang, saya dapat sms dari seorang sahabat yang sekarang kerja di sebuah perusahaan Alif-Alif. Isi sms-nya singkat, “Pak Boleh saya telpon sekarang?“. Sms itu masuk ke hape saya sekitar 2 jam an yang lalu, ketika saya masih tidur –bukan qailulah tapi leyeh-leyeh terus tertidur ๐Ÿ™‚ – Y“, jawaban sms saya untuknya sembari mata masih kriyep-kriyep.

Sekejap kemudian, sahabat tadi menelpon saya. Saya sebenarnya kurang paham dengan prolog yang dia utarakan dipercakapan kami. Saya hanya menjawab hmmm..dan hmm.. –efek mata masih kriyepkriyep dan ruh masih berserakan– Padahal saya benar-benar tidak paham dengan yang dia bicarakan, namun setidaknya saya harus menjadi pendengar yang baik, walaupun kadang berpura-pura, supaya yang mengajak bicara tidak kecewa -:). Sampailah pada ucapan yang jelas bagi saya meski harus menanyakannya 2 hingga 3 kali, “Saya diterima kerja Pak di Perusahaan Bak-Bak!!“. Barulah mata langsung jreng dan ruh terkumpul semuanya, “Masya Allah, selamat oii… Barakallahu fiikum..!!”

Ada perasaan bahagia yang membuncah keluar dari ucapan sahabat saya ketika dia menelpon. Saya dapat membayangkannya, ibarat hujan, airnya jatuh gemericik adalah perasaan gembira yang meluap, nyaring dan renyah, sedangkan pantulan air setibanya di tanah adalah ekspresi tubuh yang meloncat-loncat karena bahagia.

Sampean orang kedua Pak yang saya beri tahu. Orang pertama adalah istri saya, saya sms tadi..“, subhanallah… begitu “hebatnya” saya di pandangan sahabat saya satu ini ya.. sehingga saya yang pertama diberi kabar baik ini melalui lisannya langsung, bukan sms.. –barakallahu fikum ya akhifillah,, uhibbukum fillah-.

Oke. Kembali ke judul tulisan ini. Awalnya, ketika sahabat saya mengatakan hendak melamar ke Perusahaan Bak-Bak padahal saat itu dia telah bekerja di Perusahaan Alif-Alif, ada berbagai pertanyaan yang muncul dalam benak saya, yang intinya “mengapa” dan “mengapa”, hingga berakhir pada sebuah konklusi pribadi, “eman (sayang sekali)” dan “eman”. Konklusi saya pun ada benarnya. Posisi dan gaji dia di Perusahaan Alif-Alif, alhamdulillah, lumayan-lah. Tapi, tidak saya utarakan karena animo dia yang menggebu untuk mendaftar ke Perusahaan Bak-Bak. Tentu ketika sahabat saya ini bercerita, memberikan alasan mengapa hingga prospek dan rencana beberapa tahun ke depan kepada saya. Oleh karena itulah, saya support dia atas pilihan tersebut. Inilah Sawang-Sinawang. Perbedaan Rasa dan Sudut Pandang antara saya dengan sahabat saya terhadap sebuah pilihan.

Hmmm.. Kembali ke percakapan saya dengan dia di telpon. “Kapan ni traktiran ?” –permintaan klasik seorang sahabat ketika ada kabar baik muncul– “Wah.. Gak..Gak.. Gak ada traktiran..!!” Dan sejurus kemudian dia menutup telponnya karena mungkin tidak kuat dengan serangan nge-bully minta traktiran saya :).

Ide kreatif –jangan ditiru– saya muncul. Saya menghubungi beberapa sahabat lain yang kami sering “kongkow-kongkow” bareng pasca kajian atau hanya sekedar melepas rindu sesama thalibul ‘ilmi. “Si Anu mau ngadakan traktiran Pak..!” “Loh.. Ada acara apa Pak?”, “Dia diterima kerja di Perusahaan Bak-Bak”, “Padahal enak kerja di Perusahaan Alif-Alif.”, “Wah.. gak tau saya Pak.. yang merasakan kan dia Pak.. Kita kan hanya memandang saja.” Ini juga Sawang-Sinawang. Rasa dan Sudut Pandang yang berbeda antara saya dengan sahabat yang ini.

Mungkin sekarang rasa dan sudut pandang saya yang awalnya berbeda dengan sahabat yang itu mengalami pergeseran. Mirip, tidak jauh berbeda. Perbedaan rasa dan sudut pandang yang seketika itu terkikis dengan melihat pola bahagia sahabat saya ketika diterima kerja di Perusahaan Bak-Bak. Ikut bahagia, sehingga rasa dan sudut pandangnya relatif sama.

Banyak contoh di sekitar kita yang memberikan persepsi berbeda dari suatu kondisi atau keadaan. Orang yang satu memberikan persepsi berbeda dengan orang yang lain. Sawang-Sinawang yang terkadang melahirkan perbedaan penilaian antar individu sebagai akibat perbedaan rasa dan sudut pandang.

Si Miskin menilai Si Kaya enak, tapi Si Kaya menilai Si Miskin lebih enak. Si Jelek menilai Si Ganteng enak, tapi Si Ganteng menilai Si Jelek lebih enak. Si Bodoh menilai Si Pintar enak, tapi Si Pintar menilai Si Bodoh lebih enak. Ada banyak hal di dalam diri seseorang yang tidak dapat kita analisa secara pribadi, sehingga konklusi kita terhadapnya dinilai kurang tepat atau bahkan keliru.

Sawang-SInawang hanya ada di dunia. Dunia bersifat nisbi, semua serba nisbi karena memang hakekatnya dunia adalah fana. Mencari kesepakatan atau persetujuan atau keridhaan semua manusia ibarat puncak yang tak berujung, lelah mendaki tapi tak jua sampai.

Sawang-Sinawang yang menghasilkan persamaan rasa dan sudut pandang hanya ada di akhirat. Kehidupan setelah kematian. Keadaan di mana semua manusia telah mendapatkan balasan atas tiap-tiap apa yang telah mereka kerjakan selama di dunia. Keadaan di mana manusia telah mendapat justifikasi dari Sang Malik, apakah dia masuk ke dalam surga atau kah ke dalam neraka.

Sawang-Sinawang di akhirat hanya menghasilkan rasa dan sudut pandang yang sama, tunggal. Para Penghuni Nerakaย  menilai Para Penghuni Surga enak. Benar, memang Para Penghuni Surga enak. Hal ini akan sama dengan, Para Penghuni Surga menilai Para Penghuni Neraka tidak enak karena memang benar bahwa Para Penghuni Neraka tidak enak.

Allah ta’ala berfirman (QS. Al-Muthaffifin, 83: 34-36),

(34). ููŽุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ูƒููู‘ูŽุงุฑู ูŠูŽุถู’ุญูŽูƒููˆู†ูŽ
Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir,
(35). ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฃูŽุฑูŽุงุฆููƒู ูŠูŽู†ู’ุธูุฑููˆู†ูŽ
mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.
(36). ู‡ูŽู„ู’ ุซููˆู‘ูุจูŽ ุงู„ู’ูƒููู‘ูŽุงุฑู ู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ููˆุง ูŠูŽูู’ุนูŽู„ููˆู†ูŽ
Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.

-dar-

Advertisements

4 thoughts on “Sawang-Sinawang: Perbedaan Rasa dan Sudut Pandang

  1. yang namanya sawang sinawangan bukan hanya antar perusahaan,malah didalam perusahaan itu sendiri sudah ada sawang sinawangan antara divisi yang satu dengan divisi lainya,,,,contoh: sampeyan enak mas di bagian Product ( kata orang Marketing ) dibalas lagi sama orang product enakan marketing donk kerjanya cuma jalan-jala t0k ( katanya ) ,,,,,itulah sawang sinawangan hehehe

    Like

  2. saya sering mendengar kata-kata sawang sinawangan ,memang benar sih,jangankan antar perusahaan ,disatu perusahaan saja sudah sawang sinawangan antara divisi yang satu dengan divisi lainya ,,,,,,

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s