Dahriyah

Adalah sebuah istilah yang pertama kali saya dengar dan baca. Maklum bukan ahli ilmu, tapi masih dalam tahapan thalabul ilmi (penuntut ilmu) sehingga banyak istilah-istilah dalam agama Islam ini yang telah lama dikenal, namun saya baru mengenal. Salah satunya ini, Dahriyah.

Ilustrasi: dedaunandotnet.files.wordpress.com

Dahriyah. Sepintas seperti nama seorang perempuan, tentunya bukan nama perempuan masa kini. Dahriyah seperti nama perempuan kuno. Jika dikaitkan dengan usia, mungkin pemilik nama Dahriyah seusia jompo, 60 atau 70 tahunan. Tua dan keriput. Tapi, sekali lagi ini bukan nama perempuan tua, dan jangan pernah istilah ini digunakan sebagai nama anak perempuan kita, kedepannya. Definisi Dahriyah itu buruk. Jelek. Dimurkai oleh Sang Khaliq.

Dahriyah. Adalah sekte yang menyandarkan segala sesuatu pada berjalannya masa, waktu. Salah satu faksi kufur yang juga diikuti sebagian kaum musyrikin Arab yang mengikari adanya kehidupan setelah kematian. Para Dahriyah mengatakan, “Tidak ada kehidupan selain kehidupan kita sekarang ini. Manusia ada yang mati dan ada yang lahir. Tidak ada sebab kematian kita selain perjalanan waktu dan perputaran siang dan malam.” Kufur.

Allah ta’ala berfirman,

.وَقَالُوا مَا هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلا يَظُنُّونَ

“Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka tidak mempunyai pengetahuan sama sekali tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al-Jatsiyah, 45,: 24)

Dahriyah mengingkari adanya Hari Kebangkitan. Tidak ada hisab (evaluasi), tidak pula ada balasan. Hidup lantas mati. Selesai. Sehingga menurut saya pemahaman Dahriyah meliputi dua hal, yakni, pertama Dahriyah meyakini bahwa kematian dan kehidupan hanya berdasar pada masa, kedua Dahriyah mengingkari adanya kehidupan setelah kematian. Dogma yang sangat jauh melenceng dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad.

Para Dahriyah melupakan bahwa masa atau waktu hanyalah makhluk Allah ta’ala. Masa diciptakan, dimiliki, dan diatur oleh Allah ta’ala. Masa tak punya kuasa apapun kecuali mengikuti apa yang diperintahkan Allah ta’ala. Pagi berubah menjadi Malam. Malam berubah menjadi pagi. Dingin berubah menjadi panas. Panas berubah menjadi dingin. Hujan berubah menjadi kemarau. Kemarau berubah menjadi hujan. Rotasi dan revolusi bumi yang menjadikan berubahnya dan perbedaan masa, waktu, semuanya atas kehendak Sang Pencipta (Al-Khaliq), Sang Pemilik (Al-Malik), dan Sang Pengatur (Al-Mudabbir).

Mirip dengan Dahriyah. Para pencaci masa, waktu, musim. Ketika musim penghujan datang. Dia mencaci maki hujan. Dia mencela hujan yang menyebabkan dia tertimpa musibah. Banjir mungkin. Ketika musim kemarau datang. Dia mencaci maki panas yang mendera. Dia mencela kemarau yang menyebabkan dia tertimpa musibah. Gagal panen mungkin. Celaannya terhadap masa, waktu, musim adalah sama dengan mencela, merendahkan, dan menyakiti Allah ta’ala.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ تَعَلىَ: يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

Allah ta’ala berfirman,”Ibnu Adam (manusia) menyakiti-Ku. Dia mencela masa, sedangkan Aku-lah (Pemilik dan Pengatur) masa. Aku mengatur malam dan siang (silih berganti).” (HR. Muslim).

Yang seharusnya kita lakukan sebagai hamba-Nya adalah bersabar. Mencari solusi atas apa yang telah ditakdirkan Allah ta’ala kepada kita. Jika panas, maka berteduhlah di suatu naungan. Jika panas, nyalakanlah AC. Jika panas, nyalakanlah kipas angin. Jika dingin, gunakan selimut, kaus kaki, dan semacamnya. Jika dingin, nyalakan penghangat. Jika tidak ada fasilitas-fasilitas itu, maka sabar adalah jalan yang selamat.

Tidak ada gunanya mencela dan mencaci maki. Semakin menderita kita jika hal itu dilakukan. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Sudah menderita, mendapat murka pula. Yang perlu diingat adalah masa, waktu, musim adalah ciptaan Allah ta’ala. Dia yang memiliki dan mengaturnya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menyatakan ada tiga macam orang yang mencela masa:

  1. Bukan mencela adalah tujuannya, hanya sebatas pemberitahuan. Ini diperbolehkan.
  2. Masa adalah pelakunya. Identik dengan Dahriyah.
  3. Tidak meyakini bahwa masa adalah pelaku, tetapi dia mencela karena ketidaksukaannya pada masa. Ini diharamkan.

Nah, sekarang tinggal kita menghindarkan diri dari mencela masa. Tidak susah kan?

– dar –

Disarikan dari kajian pagi Mulazamah Syarah Kitab Tauhid bersama Ustadzuna Abdullah Shalih Al-Hadhrami hafidzhahullah  ta’ala Bab 45. Siapa yang mencela masa, maka dia telah menyakiti Allah ta’ala. Malang, 5 Dzulhijjah 1435H /  30 September 2014.
Advertisements

3 thoughts on “Dahriyah

    • Dahriyah itu paham sebagian kaum musyrikin Arab dulu pada masa jahiliyah.. Namun, pola pemikirannya tak jarang dari kaum muslimin saat ini yang mendekati mereka.. Menyandarkan segala sesuatu pada waktu.. sehingga keberadaan Allah ta’ala terabaikan..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s